Tanggal Posting

February 2012
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

Aktifitas


Jujur

oleh Islisyah Asman

Awal berdusta, orang merasa menyesal. Ketika sering melakukannya, ia merasa biasa dan makin pudar penyesalannya. Ketidakjujuran yang dibiarkan, ia jadi sulit dihambat, terasa berat mengelak. Dusta itu merugikan pribadi dan agama, dijauhi orang, dan berimplikasi pada kadar iman.

Jujur akan mengisi energi positif ke pikiran intelektualitas dan spiritualtias, menstimulasi pengembangan keilmuan dan intelektualitas, berguna bagi seorang ilmuan. Percayalah, jujur menjadi faktor kemajuan intelektualitas. Dusta adalah kebiasaan buruk yang menurunkan derajat intelektualitas.

Mengakui kelemahan itu tidak mudah. Padahal tidak perlu malu jika kelemahannya diketahui, dan itu terbukanya kesempatan memperbaikinya. Tidak mau mengakui kelemahan, kukuh menutupi kejahilannya, maka pintu menuju pintar jadi tertutup, tak ada kesempatan meningkatkan derajat keilmuan. Ia seperti katak di bawah tempurung. Ketidakjujuran menghasilkan keangkuhan dan berakibat statisnya tingkat keilmuan.

Jujur pasti menghasilkan hal positif. Pertama, ia mampu meningkatkan kinerja bekerja dan inti dari emotional quotient (kecerdasan emosional). Kecerdasan emosional adalah faktor utama kesuksesan bekerja dan merupakan sikap cerdas dimensi dunia. Kedua, ia buah keimanan sempurna, sikap cerdas dimensi akhirat, dan memprioritaskan perilaku yang bermanfaat. Ia sadar bahwa berbohong tidak menguntungkan, merugikan nasibnya di akhirat kelak. Jujur berarti ia tidak main-main menjalani nafas hidupnya yang sejalan antara perilaku dengan ucapannya.

“Manusia cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah mati” (HR Tirmidzi).

@@

Akhlak terpuji tergantung pada konsep keimanan. Kejujuran adalah cermin bersihnya tauhid manusia. Muslim yang shiddiq (jujur) dan cerdas adalah orang yang selalu ingat mati. Aktifiatsnya pertimbangkan manfaat untuk bekal setelah nyawanya dicabut.

Jujur mengakui kelemahan diri, merasa banyak dosa, memerlukan bimbingan, dan terus belajar, adalah pemacu menyempurnakan kelemahan. Ia merupakan riyadlah, yaitu proses memperbaiki diri yang dilakukan terus menerus, lalu Allah SWT menyempurnakannya. Ia berat dilakukan, kecuali bagi orang jujur dan tawadlu’ (rendah hati).

Membangun kesempurnaan diri adalah dengan mengakui kesalahan. Mulailah mengkalkulasi dosa setiap hari dengan melakukan muhasabah (koreksi diri): Berapa kali melakukan dosa hari ini? Berapa banyak syukur kita kepada Allah SAW?

”Kebajikan adalah akhlak yang baik, sementara dosa adalah yang merisaukan diri dan tidak senang bila orang tahu” (HR. Muslim).

Jangan kukuh membohongi diri. Mulut tidak bisa berbohong di alam kubur. Lebih baik jujur di dunia, dihina manusia, daripada ditutupi agar terkesan ‘hebat’ di dunia, tetapi nanti di akhirat disiksa. Mulut pintar tidak bisa berbuat apa-apa saat menjawab pertanyaan malaikat Munkar Nakir. Tidak ada manipulasi, jasad menjadi saksi semua kebohongan, dan ia menjadi energi negatif yang menghancurkan kehidupan manusia. Na’udzu billah mindzaalik.


Leave a Reply

You can use these HTML tags

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>